Tuesday, October 28, 2014

Apa, sih, financial freedom?

Satu peribahasa bijak mengatakan: Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Anda pasti tak asing dengan pepatah berisi wejangan agar jangan sampai seseorang punya pengeluaran yang lebih besar daripada penghasilan itu.

Wejangan peribahasa tersebut tentu tak hanya berlaku untuk kondisi keuangan saat ini. Sebab, keluarga yang bijak tentu harus punya rencana keuangan dalam jangka panjang, dengan tujuan agar mencapai hidup sejahtera saat ini dan di masa yang akan datang. Syukur-syukur keluarga bisa segera mencecap kebebasan finansial atau financial freedom.

Apa, sih, yang dimaksud financial freedom? Anda yang kerap mengikuti seminar keuangan pasti tak asing dengan istilah ini. Sebenarnya, tak ada rumusan baku tentang pengertian financial freedom. Jadi, jangan heran kalau tiap perencana keuangan memiliki interpretasi yang tak seragam benar.

Direktur Senior Partner OneShildt Financial Planning Budi Raharjo, misalnya, berpendapat, financial freedom adalah kondisi ketika seseorang bisa mencukupi kebutuhan dan gaya hidup tanpa harus bekerja. Orang itu mendapatkan uang dari aset produktif yang bisa memberikan penghasilan rutin. "Merencanakan financial freedom penting karena suatu saat orang bakal kehilangan kemampuan bekerja," ungkap Budi.

Perencana keuangan dari Tatadana Consulting Felicia Imansyah menyodorkan dua syarat seseorang berada dalam kondisi financial freedom. Pertama, senada dengan Budi, seseorang dikatakan bebas secara finansial jika tak lagi mengeluarkan banyak tenaga dan waktu untuk mencukupi kebutuhan. Kebutuhan dipenuhi dari aset yang memberi penghasilan rutin.

Kedua, jumlah penghasilan setidaknya tiga kali dari pengeluaran. Jarak atau gap yang jauh antara penghasilan dan pengeluaran memberikan peluang bagi seseorang untuk mengembangbiakkan dana pada instrumen invetasi.

Sedikit berbeda dengan Budi dan Felicia, perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto tak mematok pada banyak aset atau penghasilan. Sejauh dapat mencukupi kebutuhan pokok, dana pensiun dan dana pendidikan tersedia, dana darurat aman, dan masih bisa melakukan hal-hal menyenangkan, seperti berlibur, keluarga ini sudah bisa disebut dalam kondisi financial freedom.

Dengan kata lain, financial freedom bersifat subjektif bagi setiap keluarga. "Seseorang dengan jumlah aset dan penghasilan lebih sedikit bahkan bisa disebut sudah berada dalam financial freedom dibandingkan dengan orang yang memiliki aset dan penghasilan banyak tapi pengelolaan keuangannya berantakan," beber Eko.

Bagaimana dengan utang? Eko bilang, financial freedom bukan berarti tak berutang. Selama cicilan utang terkalkulasi dengan baik dan keluarga tak merasa terbebani dengan cicilan tersebut, keluarga tetap bisa disebut memiliki kemerdekaan finansial.

Sementara, menurut Felicia, kalaupun ada utang, sebaiknya, utang itu tidak bersifat konsumtif melainkan produktif. Duit hasil berutang itu dijadikan modal usaha dan hasil usaha diputar kembali untuk memajukan usaha.

Tak selalu wirausaha
Meski masing-masing perencana keuangan memiliki persepsi sendiri tentang financial freedom, setidaknya ada satu garis merah yang bisa ditarik. Yakni, financial freedom adalah kondisi ketika seseorang tidak terbebani dari sisi keuangan, sebesar apa pun aset dan penghasilan yang dimiliki.

Ketiga perencana keuangan sepakat bahwa financial freedom mungkin dicapai oleh siapa pun dengan profesi apa pun, termasuk karyawan kantoran. Peluang bebas secara finansial pun bisa dicapai tanpa harus menanggalkan status sebagai karyawan. Meskipun dalam pandangan yang lebih banyak berkembang disebut bahwa untuk mencapai kebebasan finansial, seseorang harus keluar dari pekerjaan dan menjadi wirausaha. Alasannya, bila hanya mengandalkan gaji, kehidupan seseorang hanya begitu-begitu saja.

Perlu Anda ketahui bahwa banting setir dari karyawan menjadi wirausaha itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh nyali besar menjadi wirausaha karena banyak risiko yang mungkin dihadapi, seperti kegagalan usaha yang dirintis.

Tak heran, salah satu faktor yang mengganjal niat merealisasikan diri menjadi wirausaha adalah soal "keamananan" dari sisi finansial. Hal lain, pilihan seseorang menjadi karyawan di sebuah bidang tak semata-mata mengincar gaji. Dia juga ingin mengaktualisasikan diri pada bidang yang memang digemari sambil menjalin relasi dengan rekan kerja di kantor dan luar kantor. Bayangkan jika orang tersebut lantas memutuskan diri menjadi wirausaha, kebutuhan mengaktualisasikan diri dapat tercerabut.

Bisa saja dia memilih menjadi wirausaha di bidang yang diminati. Namun, tentu ada suasana berbeda yang dirasakan antara jadi karyawan di kantor dan wirausaha.

Jadi, kebebasan finansial bagi karyawan diartikan sebagai kondisi saat seseorang tetap bisa mengaktualisasikan diri sebagai karyawan, tapi sejatinya pengeluaran dan kebutuhannya dicukupi dari sumber lain, yakni aset aktif yang ia miliki.
 
Editor: Cipta Wahyana
 
Sumber: KONTAN 

Mau sejahtera? Mari susun rencana!

Ketika kita masih kanak-kanak, salah satu pertanyaan standar orang dewasa yang harus kita jawab adalah: apa cita-citamu? Ingatkah Anda apa jawaban waktu itu? Apakah, kini, Anda benar-benar berhasil mencapai cita-cita itu?

Konon, tak sampai seperempat orang yang berhasil menggapai cita-cita dan mimpinya. Konon kabarnya pula, hanya seperempat dari mereka yang berhasil menggapai cita-cita semasa kanak-kanak benar-benar merasa puas. Sisanya menyesal karena merasa salah menetapkan cita-cita. Kegagalan orang menggapai cita-cita atau menikmati cita-cita masa kanak-kanak itu yang acap menyebabkan kita takut bermimpi. Betapa sering kita mendengar ungkapan, €œJadi orang yang realistissaja!€Salah satu peribahasa favorit kita semasa SD, €œbagaipungguk merindukan bulan€, semakin membuat kita €œtahu diri€ dan kian takut bermimpi.

Memang, mimpi akan tetap tinggal sebagai mimpi kalau kita tak pernah menetapkan strategi untuk menggapainya.  Jika kita mempersiapkan secara rapi daftar upaya yang harus kita lakukan untuk merengkuhnya, saat itu pula mimpi menjelma menjadi rencana. Begitu pula dengan mimpi finansial Anda.

Sebagai karyawan biasa, mungkin Anda €œtahu diri€ sehingga tak mau bermimpi menikmati wisata keliling Eropa selama 40 hari bersama istri terkasih.  Sebagai pengusaha €œkelas teri€, mungkin, Anda merasa sebagai pungguk merindukan bulan kalau memimpikan status financial freedom.  Memang, semua itu hanya mimpi kalau Anda tak kunjung menyusun rencana.

Terserah Anda kalau memang tak ingin berwisata keliling dunia. Suka-suka Anda kalau tak mau berhenti bekerja sebelum masa pensiun tiba. Namun, tak inginkah Anda menyekolahkan buah hati ke universitas terkemuka di Indonesia, bahkan ke Amerika?Takkepingin, kah, Anda mengantarkan mereka menggapai mimpi dan cita-cita? Jika jawaban Anda ya,  Anda harus segera mengubah mimpi-mimpi finansial itu menjadi rencana.

Setiap orang harus menyusun perencanaan keuangan (financial planning) agar tujuan-tujuan keuangan, baik yang jangka pendek maupun panjang tercapai. Selain mengakumulasi kekayaan untuk mencapai tujuan keuangan, perencanaan keuangan juga perlu untuk mengatasi tingginya biaya hidup saat ini dan masa yang akan datang serta memproteksi aset-aset pribadi dan keluarga. Financial planning juga perlu untuk mengantisipasi keadaan perekonomian yang tidak menentu serta kondisi fisik manusia yang tidak selalu sehat. Yang tidak kalah penting, perencanaan itu diperlukan untuk mencukupi kebutuhan di masa pensiun dan mendistribusi kekayaan kepada anak-anak.

Tahap pertama dalam menyusun perencanaan keuangan adalah menetapkan prioritas tujuan keuangan. Tujuan keuangan ini harus spesifik dan jelas jangka waktu pencapaiannya.  Kalau Anda Berencana ingin membeli rumah, tentukan berapa nilainya dan kapan Anda ingin membelinya: tahun depan, tiga tahun lagi, atau lima tahun lagi? Rumus yang sama juga berlaku saat Anda menetapkan tujuan keuangan lain seperti dana untuk menikah, membeli mobil, dana pendidikan anak, dana pensiun, dan seterusnya.

Tahap berikutnya, kita bisa mulai memilih kendaraan yang akan kita pakai untuk mencapai semua tujuan keuangan tersebut. Ada banyak pilihan, mulai dari menabung, ikut asuransi, hingga berinvestasi. Pilihan lahan investasi sendiri cukup banyak, mulai dari saham, reksadana, obligasi, properti, emas, sampai investasi langsung berupa bisnis.

Kapan kita harus mulai menyusun perencaankeuangan? Sedini mungkin! Harap dicatat, usia produktif manusia secara ekonomi, paling-paling, hanya sampai usia 55 tahun.  Padahal, setelah itu, kita masih bisa hidup 20 tahun, 25 tahun, atau bahkan lebih.  Tanpa persiapan finansial yang cukup, kehidupan setelah usia pensiun itu pasti bakal terasa berat.

Editor: Cipta Wahyana

Sumber: KONTAN

Investasi sejak dini adalah harga mati

Apakah Anda anak seorang konglomerat? Jika ya, Anda orang yang beruntung. Sebab, bisa dipastikan, semua kebutuhan hidup Anda saat ini dan di masa yang akan datang akan terpenuhi.  Dalam kondisi seperti ini, sah-sah saja jika Anda sering mengutip semboyan "Muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga".

Masalahnya, orang yang berstatus anak konglomerat hanya segelintir. Mayoritas dari kita adalah orang biasa yang harus sekolah, kuliah, dan kemudian bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup.Sampai di sini, masalah belum selesai. Setiap orang harus menghadapi kenyataan bahwa kebutuhan terus bertambah seiring pertambahan usia, sementara penghasilan bersifat terbatas. Untuk memperoleh uang lebih banyak, kita memang bisa bekerja lebih lama. Cuma, waktu yang tersedia untuk bekerja ada batasnya.

Seandainya kita bisa membelah diri, barangkali, masalah itu bisa teratasi. Namun, tak perlu pusing memikirkan cara membelah diri. Sebab, sebenarnya, Anda bisa mempekerjakan uang Anda sendiri agar memperoleh uang lebih banyak. Caranya adalah dengan berinvestasi.

Secara sederhana, investasi adalah penempatan dana untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang.  Dengan investasi, di saat Anda bekerja, tidur, atau pelesiran; uang yang Anda investasikan itu akan berbiak.
 
Ketidaksesuaian antara kebutuhan dan penghasilan bukan satu-satunya alasan berinvestasi. Alasan lainnya adalah inflasi. Banyak orang bilang, inflasi itu ibarat pencuri.  Tanpa kita sadari, ia sering datang menyelinap dan merampok kita habis-habisan. Inflasi juga tidak pandang bulu. Orang miskin, setengah kaya, maupun kaya raya tak bisa menghindar saat inflasi datang. Nilai hampir semua jenis aset mereka menyusut tanpa ampun.

Inflasi juga sering merusak rencana-rencana keluarga. Misalnya, duit yang ditabung di bank tak cukup lagi membiayai sekolah anak karena tiba-tiba pengelola sekolah menaikkan uang pangkal. Contoh lain, harga yang selalu naik saban tahun membuat mobil impian tak kunjung terbeli.

Merasa tak berdaya, banyak lantas pasrah ketika inflasi menggilas daya beli mereka. Namun, tak sedikit pula orang yang melawan si pencuri bernama inflasi itu. Caranya: mereka berinvestasi!

Investasi menjadi solusi jitu menjinakkan inflasi karena akan membuat dana kita terus berbiak. Ada banyak ladang investasi untuk membiakkan duit Anda. Misalnya Anda bisa menginvestasikan duit Anda di saham, obligasi, reksadana, emas, properti, atau bahkan memulai bisnis sendiri.  Nah, dengan strategi yang tepat, keuntungan investasi akan mampu mengalahkan inflasi.

Harap dicatat, dalam konteks ini, tabungan atau deposito tidak masuk kategori produk investasi. Sebab, lazimnya, bunga simpanan yang diberikan oleh bank tak akan mampu menyusul laju inflasi.

Investasi bukan berjudi

Tapi, jangan salah; investasi bukan berjudi. Berjudi adalah menempatkan uang dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang belum pasti. Memang, ada yang bilang bahwa ketika kita berinvestasi di saham, misalnya, kita tengah berjudi. Anggapan itu benar jika Anda berinvestasi di saham hanya berdasar tebakan semata.

Investor yang bijaksana tidak asal melemparkan duitnya sambil merem. Ia melakukan analisis dan hanya akan menempatkan duit jika memang ada potensi keuntungan yang masuk akal. 

Agar berhasil, investasi membutuhkan perencanaan yang matang. Seperti telah disinggung di tulisan lain, di tahap pertama, seorang investor harus menentukan tujuan investasinya dengan spesifik. Kedua, investor juga harus mengukur seberapa besar risiko yang mampu ia pikul. Maklum, semua produk investasi pasti mengandung risiko.

Langkah terakhir adalah yang paling sulit. Ada banyak pilihan instrumen investasi seperti saham, reksadana, obligasi, emas, dan properti. Investor harus bisa memilih produk yang tepat agar tujuan investasinya tercapai dalam jangka waktu yang telah ia ditetapkan. Produk yang dipilih juga mesti sesuai profil risiko masing-masing.

Kini, setelah memahami seluk-beluk investasi dan alasan mengapa harus berinvestasi, ada satu konsep mendasar yang harus Anda pahami, yakni konsep bunga berbunga atau compound interest. Secara sederhana, compound interest adalah hasil yang diperoleh investor karena menginvestasikan kembali keuntungan investasi sebelumnya. Ambil contoh, Anda menginvestasikan Rp 100 juta dengan return rata-rata 10% setahun. Di tahun pertama, keuntungan Anda Rp 10 juta.  Jika Anda menginvestasikan kembali cuan ini di instrumen yang sama, di tahun kedua, keuntungan Anda bukan lagi Rp 10 juta, tapi naik menjadi Rp 11 juta.


Editor: Cipta Wahyana

Sumber: KONTAN 

Mau berinvestasi tapi takut risiko? Ini solusinya

Banyak orang belum juga melakukan investasi. Padahal, mereka sudah punya penghasilan tinggi, dan punya tanggungan masa depan, diantaranya adalah kebutuhan untuk anak-anaknya kelak.
Biasanya, orang-orang seperti ini tidak berani mengambil risiko. Perlu diingat, setiap investasi pasti mengandung risiko, apapun instrumennya. Jangankan investasi, setiap tindakan yang kita lakukan pun pasti ada risikonya. Namun bukan berarti kita tidak bisa terhindar dari risiko.